Langsung ke konten utama

Radio Telstar Makassar


Mendengarkan radio adalah satu hal yang aku sukai sejak kecil. Aku masih ingat, dulu aku pernah mendengarkan Sandiwara Radio bersama almarhum Ayah sembari beristirahat siang. Salah satu nama pemeran sandiwara radio yang masih aku ingat sampai sekarang adalah Ayu Wandira, tapi aku lupa judul sandiwara tersebut. Setelah tak ada sandiwara radio lagi dan mulai ada TV, aku mulai tidak pernah mendengarkan radio lagi.

Ngomong-ngomong, itu jaman kapan ya? Jadul banget deh kayaknya? Hehehe....

Saat aku SMP, aku kadang mendengar radio ketika berkunjung ke rumah sepupuku, kak Chia, yang juga sangat suka dengar radio. Salah satu radio kesukaan sepupuku adalah radio Venus dan penyiar kesukaannya waktu itu adalah Denny Azis. Sepupuku itu bahkan sering mengirimkan kartu pos ke Radio Venus.

Saat mulai kuliah dan tinggal di Makassar, ketika menyetel radio, stasiun yang aku cari pertama kali adalah Radio Venus dan aku bahagia karena ternyata Denny Azis masih tetap jadi penyiar Radio Venus. InsyaAllah aku akan cerita tentang Radio Venus, tapi aku mulai dengan cerita tentang Radio Telstar dulu.

Aku jadi pendengar Telstar sejak Februari 2004. Maret 2004 aku mulai sering keluar malam menuju wartel atau telpon umum hanya untuk menelpon Telstar dan pesan lagu di acara Indoku Indomu.

Selain acara Indoku Indomu yang waktu itu mengudara pukul 20.00 sampai 22.30 WITA, aku juga menyukai beberapa acara lain, seperti Simfoni Keluarga, 20 Tembang Terpopuler, Bingkisan Bahagia, dan Pagi Indah.

Penyiar yang aku sukai ada banyak, tapi aku sudah lupa namanya. Yang aku ingat ada Fahrizal Riyadi, Ryanti Farid, Nila Refika, Ardi, Ronny Kristian, Sandy Satria, Vita Ata, Ized Raya, dan yang paling baru sejak aku ada di Makassar ada Idham Hamid. Beberapa penyiar tersebut masih ada di Telstar sampai sekarang. Jadi ketika mendengar suara mereka, aku kadang teringat masa lalu, hehehe.

Selain pesan lagu, aku juga sering ikutan kuis di Radio Telstar dan menang. Pernah dapat bingkisan tahun baru, gratis cetak foto, dapat kaset dan juga CD. Duh, senangnya hati ini bila mengingat masa-masa itu.

Dulu, aku paling suka acara Indoku Indomu dan selalu menantikan acara tersebut. Sebelum pukul 8 malam, aku menyetel radio pada frekuensi 102,7 fm yang sebelumnya di 103 fm. Setelah acara tersebut dimulai dan mendengar siapa penyiarnya, aku pun keluar rumah untuk menelpon ke Telstar. Waktu itu yang selalu angkat telponku bernama mba Erna.

Aku terkadang menelpon di wartel atau Telpon Umum dekat rumah kost, maklum belum punya HP waktu itu. Ketika menelpon Telstar, tidak selamanya telponku tersambung. Kadang setelah aku coba berkali-kali baru tersambung, kadang pula tidak tersambung sama sekali sampai aku harus pulang ke rumah dengan langkah gontai dan rasa kecewa di hati.

Mendengar namaku disapa oleh sang penyiar apalagi penyiar favorit, itu rasanya sesuatu banget. Dan ketika aku tak berhasil menelpon, itu artinya aku tak akan mendengar namaku disebut. Jadi nelangsa aku dibuatnya. Hahaha...., lebay banget deh ih.

Pada tahun 2008 aku pernah jadi penyiar tamu di acara favoritku Indoku Indomu Sahabatku Sahabatmu. Program tersebut khusus dibuat bagi semua mahasiswa yang kuliah di Makassar. Sebelum siaran, aku dan beberapa teman-teman dari Universitas lain mengikuti pelatihan dari bung Ized Raya. Sayang waktu itu aku belum punya flashdisk sehingga tidak bisa membawa pulang rekaman suaraku.

Acara Indoku Indomu Sahabatku Sahabatmu berlangsung malam Rabu dan malam Jumat. Aku menyiar bersama Ronny Kristian dan Sandy Satria W. Jangan ditanya perasaanku waktu itu. Bahagia dan grogi bercampur jadi satu. Untungnya ketika kehabisan kata, Ronny dan Sandy langsung menutupinya. Aahhh..., jadi pengen dengar suaraku sendiri waktu siaran. Kata temanku si Irma sih lumayan. Tapi aku tak tahu, lumayan baik atau lumayan buruk, hehehe.

Sekarang, tiap Senin sampai Jumat aku bisa mendengarkan Indoku Indomu lagi yang mengudara pukul 20.00 sampai pukul 22.00. Aku paling suka monitor ketika yang siaran mas Idham Hamid. Ada yang belum pernah dengar suaranya? Dengerin aja Indoku Indomu tiap hari Senin sampai Rabu. Eh, tapi mas Danang Asri yang bawain Indoku Indomu di hari Kamis dan Jumat juga OK kok.

Aku kepikiran menulis tentang Telstar karena sempat galau dibuatnya. Soalnya, sudah dua malam ini aku mendengar ada lowongan kerja di radio Telstar dan aku sangat ingin bisa menjadi penyiar Telstar. Tapi dengan kondisi kesehatan seperti sekarang, mana mungkin aku bisa kerja? Yang ada, nanti malah masuk rumah sakit lagi.

Balasannya bikin aku makin baper aja 😦

Hhhmmm..., mungkin memang belum jodoh kali ya? Meskipun aku sangat menginginkannya. Saat ini yang paling penting aku harus sembuh dulu. OK? Andai saja ada acara Indoku Indomu Sahabatku Sahabatmu lagi, mungkin aku bisa ikutan jadi penyiar tamu lagi seperti dulu dan bertemu dengan mas Idham juga mas Danang serta penyiar yang lainnya.

Colek Radio Telstar ah..., siapa tahu acara itu dibuat lagi. Berharap banget. Semoga iya. Aamiin.

Oh iya ada yang ketinggalan. Aku juga pernah ikutan acara FrenStar dan dari acara tersebut aku dapat kenalan seseorang yang akhirnya jadi teman dekat, tapi sekarang sudah jadi mantan. Hahaha..... jadi tertawa sendiri membaca kalimat terakhir barusan.

Okeh! Cukup sampai di sini dulu cerita sekaligus curhatku hari ini. Semoga tulisan ini menghibur. 😃

Komentar

Posting Populer

Serasa Bagai Mimpi

Semalam, alhamdulillah aku akhirnya bisa ketemu sang dokter ahli dan mendapat kabar yang begitu bahagia. Dari semalam aku sudah sangat bersemangat ingin menulisnya di sini tapi aku tahan keinginan itu. Takut aku hanya bermimpi dan semuanya adalah khayalan belaka.

Angka Cantik (2)

Pas ganti wallpaper dapat angka cantik 1234 Selamat malam semuanya... Aku datangnya malam lagi nih karena seharian ini keasyikan ngeblog di Dapur Ima dan blog walking.

Jatuh Bangunnya Sitti Taslimah

Apa kabar Ima? Sebulan lebih tak bersua kemana aja? Bersyukur karena Allah masih sayang eh salah, Allah itu dari dulu sudah sayang padaku hanya aku saja yang merasa Allah tidak sayang padaku dan bahkan aku sering bersikap bagai Tuhan yang bisa mengucapkan Kun Fayakun kapanpun aku mau. Gila dan keterlaluan kan?