Langsung ke konten utama

Ekstrak Ikan Gabus


Di kampungku, semua orang yang habis operasi disarankan makan ikan gabus, yang dalam bahasa Mandar disebut Be'do'. Hal itupun terjadi padaku sehabis operasi yang pertama Januari 2016 lalu. Mengapa harus ikan gabus? Karena dengan makan ikan gabus, luka operasi kita bisa lekas sembuh.

Sudah pada tahu kan bentuk ikan gabus itu seperti apa? Kepalanya seperti ular dan badannya sangat licin. Biasanya dibeli dalam kondisi masih hidup sehingga butuh perjuangan untuk mematikannya terlebih dahulu. Mamaku pernah mendiamkannya dalam baskom tertutup tanpa air semalaman, tapi keesokan harinya si ikan gabus masih hidup. Aduh, si ikan gabus sepertinya memilih mati dengan cara kasar deh, yaitu dipukul. Aku kasihan bila melihat hal itu, tapi apa boleh buat, itulah salah satu cara cepat untuk membuat si ikan gabus bisa segera dieksekusi.

Aku yang pada dasarnya pilih-pilih makanan sejak kecil, ternyata kurang suka sama ikan gabus. Tekstur ikannya seperti ikan bolu (bandeng), durinya banyak dan kecil sehingga makan si ikan gabus pun butuh perjuangan. Aku tak bisa makan ikan gabus tiap hari karena selera makanku jadi hilang karenanya, haduhhhh.


Karena hal tersebut, aku pun akhirnya dibelikan VipAlbumin. VipAlbumin adalah ekstrak ikan gabus yang dikemas dalam bentuk kapsul. Ternyata, makan ikan gabus dan minum VipAlbumin tidak beda jauh, sodara-sodara, semuanya butuh perjuangan. Soalnya, aku kan tidak bisa minum obat dalam bentuk aslinya tapi harus dipuyer dulu kalau obatnya dalam bentuk tablet atau kaplet, dan bila obatnya dalam bentuk kapsul, kapsulnya dibuka dulu.

Nah, VipAlbumin setelah dibuka kapsulnya menebarkan aroma yang tidak sedap dan saat diminum rasanya aneh sehingga membuatku mual dan nyaris muntah. Aku merasa sangat tersiksa dan stres setiap kali akan minum obat itu. Untungnya aku hanya dibelikan 2 botol, jadi tidak perlu berlama-lama tersiksanya, hehehe.

Sehabis operasi Juni 2017 lalu, aku kembali mengonsumsi VipAlbumin. Kali ini dengan resep dokter. Awalnya masih mual-mual, tapi lama-lama akhirnya hidung dan lidahku mulai terbiasa dengan aroma dan rasa khasnya. Asyiiikkkk. Aku juga sesekali makan ikan gabus, terutama air ikannya.


Beberapa waktu yang lalu, aku pernah mengonsumsi Channa, ekstrak ikan gabus dengan merk lain karena dokter meresepkan itu. Menurutku rasa dan aromanya sedikit lebih lembut dibandingkan VipAlbumin. Lalu saat di rawat di RS. Wahidin kemarin, kak Adil membelikan Oktabumin, ekstrak ikan gabus merk lain dengan harga yang lebih murah. Menurutku, Oktabumin adalah ekstrak ikan gabus yang sangat cocok untukku karena tidak beraroma dan berasa aneh. Aku suka. Aku suka. Akhirnya bisa minum obat tanpa beban, hehehe.

Setelah menghabiskan 2 botol Oktabumin isi 60 kapsul, kak Abid lalu mencari Oktabumin lagi. Kak Abid mendatangi beberapa apotik namun ia tak menemukan satupun apotik yang menjual Oktabumin. Akhirnya, kak Abid kembali membeli VipAlbumin yang harganya paling mahal di antara semua kapsul ekstrak ikan gabus yang ada.

Setelah lama tidak minum VipAlbumin dan sudah terbiasa dengan Oktabumin, drama minum obat terjadi kembali. Setiap minum VipAlbumin, aku pasti mual-mual. Aduh...., tidak enak banget deh rasanya.


Kemarin, kak Abid kembali mencari Oktabumin tapi tetap tidak ada. Penjual obat yang sudah sering ia datangi menyarankan ia untuk membeli Pujimin. Kata penjualnya, Pujimin adalah ekstrak ikan gabus pertama yang diproduksi di Makassar sebelum ada VipAlbumin. Harganya lebih murah dibandingkan VipAlbumin. Kata penjualnya lagi nih, VipAlbumin harganya mahal karena VipAlbumin obat yang diresepkan oleh dokter. Akhirnya kak Abid memutuskan untuk membeli Pujimin saja. Oh iya, aku tak punya foto Oktabumin karena botolnya sudah kubuang semua.

Pujimin berisi 30 kapsul dalam satu botol seperti VipAlbumin, tapi tiap kapsul Pujimin berisi 700 mg sedangkan VipAlbumin hanya 500 mg. Rasa dan aromanya nyaris sama dengan VipAlbumin sehingga drama minum obat kembali berlanjut. Yah, mau tidak mau harus mau karena aku ingin lekas sembuh. Semoga saja lidahku segera terbiasa lagi dengan rasa Pujimin agar drama minum obat tak perlu terjadi lagi. Aamiin.

Semangat, Ima!!!

Komentar

Posting Populer

Surah Al-Baqarah Ayat 18

Ada apa sih dengan surah Al-Baqarah ayat 18? Kok tumben ya judul tulisanku kali ini jadi islami banget? Mimpi apa aku semalam? Hehehe.... 😄😁😀

Oktabumin

Semalam, ketika lagi nungguin sinetron kesukaanku tayang, Catatan Harian Aisha di RCTI, ada orang yang ketuk-ketuk pagar dengan gembok. Aku pun keluar melihat siapa yang datang. Ternyata kurir JNE yang ngantar paket untukku.

Tersimpan di Hati

Akhir-akhir ini tulisan saya di sini kebanyakan lagu-lagu ya? Padahal itu sudah saya pilih lagu-lagu terbaik dan layak dinyanyikan semua kalangan. Sementara lagu-lagu galau, dll, tidak saya tampilkan, heheheh.

Mengapa begitu?
Ada deh. Rahasia perusahaan, hihihi.


Baiklah, kita lanjutkan tulisan kali ini sesuai judulnya yaitu Tersimpan di Hati. Lagu Tersimpan di Hati ini adalah ciptaan musisi muda kece Eka Gustiwana.

Saya mau cerita sedikit nih tentang si Eka Gustiwana yang sudah saya lihat sejak tahun 2015 di videonya Sam Tsui tapi baru tahu beberapa bulan yang lalu kalau itu adalah Eka Gustiwana. Soalnya, saya hanya memperhatikan penyanyinya bukan pemain keyboardnya (eh itu keyboard kan namanya?).

Lanjut!


Saya akhirnya memutuskan untuk menampilkan lagu Tersimpan di Hati ini karena menurut saya lagu ini keren sekali. Apalagi yang versi 12 bahasa daerah. Keren banget pokoknya. Lagu ini juga banyak yang cover dan kebanyakan video klipnya saja yang berbeda.

Sukses terus buat Eka Gustiwan…